Dinul Islam

Pengertian dan Makna Dinul Islam
Dinul Islam merupakan gabungan dari dua kata, yaitu Ad-Din dan Al-Islam. Sebanyak 92 kali diulang kata Ad-Din di dalam Al-Qur’dan dan kurang lebih sebanyak 101 ayat Al-Qur’an yang menyebutkan istilah ini. Istilah ad-din berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk masdar dari kata kerja dana-yadinu. Menurut bahasa Arab arti asalnya adalah hutang atau memberi pinjaman. Kemudian diartikan pula dengan: taat, balasan, adat, pahala, ibadah, ketentuan, paksaan, tekanan, kerajaan, pengaturan, perhitungan, undang-undang, hukum, tauhid, hari kiamat, perjalanan hidup, siasat, wara’, nasehat, keputusan, tunduk, dan agama. Dengan demikian arti ad-din amat luas sekali.
Kata din dalam Al-Qur’an banyak didefinisikan dengan arti agama, tapi ada beberapa ayat yang mengartikan din dengan arti lain. Karena din menunjuk kepada makna-makna yang berbeda-beda. Al-Qur’an mengunakan din dengan berbagai arti, seperti ibadah (Al-Mukminun: 14), ketaatan (Luqman: 32), hari akhirat (Adz-Dzaariyaat: 6), dan lain sebagianya. Adapun Ad-Din menurut Al-Attas :
Ada baiknya, pembahasan mengenai makna agama (din) dimulai dengan menguraikan terlebih dahulu makna kata din yang berasal dari bahasa Arab. Sebab, menurut Al-Attas, makna dasar yang terkandung di dalam kata dīn membentuk suatu sistem makna semantik yang saling terkait. Istilah din berasal dari akar kata DYN dalam bahasa Arab yang memiliki banyak pemaknaan. Makna utama dalam kata din dapat disimpulkan menjadi empat makna: (1) keadaan berutang; (2) penyerahan diri; (3) kuasa peradilan; (4) kecenderungan alami. Pada penjelasan berikut ini akan dijelaskan makna-makna tersebut secara singkat dan kemudian menempatkannya dalam konteks yang sesuai. Hal tersebut membuat gambaran akhir kesatuan makna sesuai dengan yang dimaksud, di mana ia membawa maksud keyakinan, kepercayaan, perilaku, dan ajaran yang diikuti oleh seorang muslim secara individu maupun umat yang keseluruhannya terjelma sebagai agama yang disebut dengan Islām. (Al-Attas, 2011: 63-64)
Kata kerja Dana yang berasal dari kata dīn bermakna keadaan berutang. Keadaan seorang yang sedang berutang (da’in), semestinya menundukkan dirinya, yaitu berada dalam keadaan berserah dan taat kepada hukum dan aturan dalam berutang, dalam keadaan tertentu juga terhadap pemberi utang yang juga dipanggil sebagai da’in. Pengertian ini juga membawa maksud bahwa seseorang yang dalam keadaan berutang berarti mempunyai suatu kewajiban atau dayn. Kondisi tersebut yakni dalam keadaan berutang secara tabiinya berkaitan dengan suatu penghakiman atau daynunah, dan pemberian hukuman atau idanah. (Al-Attas, 2011: 64-65)
Seluruh kata beserta makna tersebut yaitu da’in (yang berutang dan pemberi utang), dayn (kewajiban), daynunah (penghakiman) dan idanah (pemberian hukuman) merupakan kesepaduan sistem semantik yang muncul dari kata kerja dāna yang pada kehidudan nyata hanya dapat terjadi dalam sebuah masyarakat yang tersusun dan terlibat dalam kegiatan perdagangan yang disebut dengan mudun atau mada’in. suatu kota atau madinah yang memiliki seorang hakim, penguasa, atau pemerintahan yang disebut dayyan. Kemudian, dari penggunaan kata yang berasal dari kata dana, kita dapat melihat suatu gambaran dalam fikiran kita bahwa hal ini berkaitan dengan kehidupan suatu peradaban atau tamaddun yang berasal dari kata maddana, suatu kehidupan bermasyarakat yang diatur oleh hukum, peraturan, peradilan dan otoritas. kata maddana bermakna membangun atau membina kota, membangun peradaban, memurnikan dan memanusiakan. Sedangkan tamaddun bermakna peradaban dan perbaikan dalam budaya sosial. (Al-Attas, 2011: 65-66)
Dari pemaknaan utama yakni keadaan berutang, kita dapatkan pemaknaan yang berkaitan dengannya, seperti: merendah diri, mengabdi, menjadi hamba; dan dari pemaknaan utama seorang hakim, penguasa dan pemerintah kita memperoleh makna lain seperti: yang besar, yang perkasa, dan yang kuat; seorang tuan adalah seorang yang ditinggikan derajatnya dan mulia. Lebih lanjut juga makna; peradilan, penghakiman, atau pembalasan (pada suatu waktu yang ditentukan). (Al-Attas, 2011: 66)
Konsep-konsep dari makna istilah-istilah di atas, yang secara asasi berpusat pada makna din yang tentunya ditegakkan pada suatu madinah, menuntut lahirnya sebuah gaya hidup atau cara berperilaku sesuai dengan yang dianjurkan oleh hukum, peraturan, peradilan otoritas tertentu. Gaya hidup tersebut akan dianggap normal apabila sesuai dengan konsep di atas. Keadaan normal ini juga suatu bentuk kecenderungan alami manusia yakni kecenderungan membentuk suatu komunitas atau kelompok masyarakat yang taat kepada hukum, serta berusaha mewujudkan pemerintahan atau suatu kota raya (cosmopolis) yang adil. (Al-Attas, 2011: 66-67)
Menurut Al-Attas, sangatlah penting melihat secara tajam hubungan yang penting antara konsep din dan madīnah yang berasal dari din. Din berhubungan dengan seorang beriman secara individu, dan madinah dalam konteksnya secara kolektif atau ummat. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah bergantinya nama kota Yasthrib menjadi Madinah. Kita harus melihat bahwa Al-Madinah disebut dan dinamakan demikian karena di sanalah din yang benar ditegakkan untuk umat manusia. Di sana orang beriman menghambakan diri di bawah otoritas dan kuasa hukum Nabi Saw. sebagai dayyan. Juga di sanalah kesadaran akan berutang dengan Allah mengambil bentuknya yang pasti, dan cara serta kaidah ‘pembayarannya’ yang disetujui mulai diterangkan dengan jelas. (Al-Attas, 2011: 65)
Kata din ini kemudian maknanya diikat dengan kata Islam sehingga menjadi suatu frasa Din al- Islam (Agama Islam). Kata Islam sendiri, memiliki maknanya ‘berserah’, ‘selamat’ dan ‘pasrah’. Sebagaimana firman Allah, bahwa sesungguhnya agama (din) yang benar di sisi Allah adalah Islam. Itu juga berarti bahwa agama (din) yang selamat dan menyelamatkan adalah agama Islam, dan peradaban (tamaddun) yang selamat dan menyelamatkan adalah peradaban Islam.

Ruang Lingkup Dinul Islam
Runga lingkup dinul Islam terbagai menjadi tiga bagian, yaitu hubungan manusia dengan Allah (Hablum Minallah) atau bisa disebut ibadah Mahdoh. Hal ini dijelaskan dalam Surat Adz-Dzaartiayaat : 56. Selanjutnya adalah hubungan manusia dengan manusia (Hablum Minannas) yang dijelaskan dalam Surat Al-Maidah : 2. Terakhir adalah hubungan manusian dengan mahkluk lainnya/lingkungannya yang dijelsakan dalam Surat Ibrahim : 19, Luqman : 20, Hud : 61.

Ciri-ciri Dinul Islam
Criri-ciri dinul Islam terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya sebagai agama fitrah, agama Tauhid, dan agama pedoman hidup yang sempurna. Dikatakan sebagai agama fitrah karena dijelaskan bahwa :
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum : 30)
Dinul Islam sebagai agama Tauhid, agama yang berasal dari wahyu disebutkan dalam dalam Surat Al-Anbiyya : 25.
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.
Selain agama fitrah dan agama Tauhid, dinul Islam sebagai agama pedoman hidup yang sempurna karena Islam sebagai pendorong dan rahmat bagia umat manusia, sebagaimana Firman Allah Surat An-Nisa’ : 175.
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *